Minyak bumi merupakan campuran kompleks yang mengandung ribuan senyawa hidrokarbon tunggal mulai dari yang paling ringan saperti gas metana sanpai bahan aspal yang berat dan berwujud padat. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hampir semua komposisi senyawa dalam minyak bumi terdiri atas atom karbon dan hydrogen (hidrokarbon). Namun terdapat pula senyawa- senyawa yang mengandung belerang, oksigen dan nitrogen.
Senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak bumi berdasarkan strukturnya secara umum dibagi atas 4 kategori yaitu:
1. Senyawa paraffinic
Hidrokarbon golongan ini menpunyai ikatan rantai baik dalam bentuk lurus maupun bercabang. Pada temperature kamar dan tekanan atmosferik, metana (CH4) etana (C2H6), propana (C3H5), dan butane (C4H10) berada dalam fase gas. Namun propana dan butana dapat dicairkan dengan sedikit kompresi.senyawa paraffinic yang berbentuk cair pada kondisi atmosferik adalah mulai dari pentana (C5) hingga di atasnya. Semakin panjang rantai paraffin, maka titik didih dan titik lebernya akan semakin tinggi.
2. Senyawa olefinic
Senyawa golongan ini jarang terapat dalam minyak bumi, karena senyawa ini merupakan hasil dekomposisi dari tipe golongan hidrikarbon lainnya. Olefin pada konsentrasi tinggi dapat kita peroleh pada produk dari Thermal Cracking atau Catalytic Cracking. Olefin merupakan senyawa paraffinic yang kekurangan atom-atom hidrogen, sehingga mempunyai ikatan rangkap. Secara umum olefin tidak di inginkan dalam proses akhir pengolahan minyak bumi menjadi bahan bakar minyak, karena ikatan rangkapnya yang sangat reaktif serta mudah teroksidasi dan terpolymerisasi menjadi gum. Senyawa oleffinic disebut juga senyawa karbon tak jenuh.
3. Senyawa naphtenic
Senyawa hidrokarbon yang juga dikenal dengan Cycloparaffinic ini mempunyai struktur molekul yang lebih kompleks dari pada paraffin dan berbentuk rantai cincin yang tidak mengandung ikatan rangkap. Panjang dan julah senyawa paraffin yang melekat pada rantai cincin dapat sangat beragam sesuai dengan formula CnH2n. pada Countinuous Catalytic Reforming Unit, Napthenic tersebut akan kehilangan atom hidrogennya dan terkonversi menjadi aromatik.
4. Senyawa aromatic
Bentuk dan rangkaian yang paling sederhana dari aromatik adalah benzene (C6H6). Struktur molekul senyawa ini hampir sama dengan senyawa napthenic, yaitu membentuk suatu rantai cincin. Perbedaanya adalah adanya ikatan rangkap didalam senyawa hidrokarbon yang timbul karena di lepaskanya satu atom hidrogen pada setiap ikatannya. Karakteristik dari golongan senyawa aromatik ini terdiri dari struktur benzene segi enam. Aromatik pada umumnya bersifat kurang reaktif dan pada gasolin range merupakan pelarut yang bagus serta memiliki angka oktan yang tinggi.
Salah satu bahan yang terdapat dalam crude oil adalah wax. Wax ini adalah salah satu hidrokarbon, biasanya berupa paraffin hidrokarbon (C18 – C36) dan naphtenic hidrokarbon (C 30 –C 60). Bila temperatur minyak dalam pipa berada di bawah temperatur titik kabut (cloud point) minyak tersebut, maka wax akan membeku dan membentuk kristal. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya penurunan temperatur minyak dalam pipa adalah kehilangan panas yang dialami oleh minyak sebagai akibat adanya perbedaan temperatur antara minyak dan lingkungan.
Masalah wax dan paraffin merupakan hal yg sering dialami dalam instalasi pipeline bawah laut. Terutama untuk pengembangan minyak offshore dimana suhu air laut sangat rendah yang membuat wax mudah mengendap. Pengendapan wax/paraffin di dinding pipa menjadi suatu permasalahan yang serius di industri perminyakan dalam suatu sistem produksi dan transportasi minyak berparaffin. Permasalahan yang timbul dengan keberadaan wax dalam minyak mentah (crude oil) diantaranya adalah :
• Ketika mentransportasikan minyak dalam jaringan pipa, karena akan memperlambat laju alirankarena mengurangi diameter efektif dari pipeline dan juga akan menambah kekasaran pipa juga meningkatkan pressure drop.
• Adanya wax dapat meningkatkan viskositas minyak sehingga akan lebih sukar untuk dialirkan.
• Wax akan mengendap pada tanki penyimpanan.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghindari wax, yaitu dengan mempertahankan suhu minyak di atas wax appearance temperature (WAT) dengan memberikan isolasi pada pipeline (passive heating) atau memberikan sumber panas tambahan (active heating) ke pipeline seperti electric heater, water medium heater. Namun apabila mempertahankan suhu minyak di atas WAT tidak memungkinkan, maka wax dapat dicegah mengendap dalam pipeline dengan jalan memberikan tambahan bahan-bahan kimia (chemical injections) ke dalam pipeline, baik berupa wax inhibitor atau pour point depressant (PPD). Salah satu fungsi wax inhibitor atau PPD adalah untuk menurunkan WAT atau mengurangi laju pengendapan wax dalam pipeline sehingga wax dapat terbawa ke tujuan.
Jika upaya mencegah pengendapan wax dalam pipeline sudah dilakukan masih gagal, maka wax yg sudah mengendap dalam pipeline dapat dibersih dengan melalukan pigging secara berkala. Pigging adalah satu proses dimana kita memasukkan suatu benda yg keras kedalam pipeline dengan tujuan untuk mengikis wax-wax yg sdh mengendap di dinding pipeline. Waktu melakukan pigging akan disesuaikan dengan laju pengendapan wax dalam pipeline sehingga flow area untuk minyak dalam pipeline tetap memadai.

Perkembangan teknologi terbaru kini memungkinkan untuk menerapkan kombinasi antara wax inhibitor injection dan pigging operation. Pigging, selain digunakan untuk mengikis wax sering juga pakai untuk menjaga jumlah cairan yan berada dalam pipeline, karena selain minyak ada juga cairan lain berupa produced water serta bahan kimia (baik berupa corrosion inhibitor, hydrate inhibitor, dll) yang mengendap dan tertahan dalam pipeline.
Dari berbagai sumber